Beasiswa S1 IELSP Batch 5 2008/2009 Daftar Penerima

 

 

Beasiswa IELSP Batch 5  – Open

 

 

 


Daftar Penerima Beasiswa IELSP Batch 5
Indonesia English Language Study Program

1 Zia Hisni Mubarak
Universitas Bengkulu
31 Oseane PE Rorimpandeyb
Univ.Sam Ratulangi Manado
61 Toni Hanafir Nanda
Univ. Jember
2 Christiana Yentlinova
Univ. Palangkaraya
32 Hendra Kurniawan
Univ. Jember
62 Muhammad Ali Agung Barata
UIN Malang
3 Muthoharoh
STAIN Pekalongan
33 Dian Kartika Sari
STAIN Pontianalk
63 Syifaul Khuluq
Univ Tanjung Pura Pontianak
4 Yohanes Purnomo
Univ. Jend. Sudirman Purwokerto
34 Rezeky Ana Ashal
Univ Neg. Medan
64 Rachmat
Institut Pertanian Bogor
5 Ahmad Samingan
STAIN Salatiga
35 Novanda
UPI Bandung
65 Miftahul Mardiyah
Univ Padjajaran Bandung
6 Rudi Purnomo
STAIN Samarinda
36 Khotimatul Usna
IAIN Walisongo Semarang
66 Rani Silvia
Univ.Negeri Padang
7 Wildan M. Muttaqin
STAIN Surakarta
37 Gita Andriani
Univ Sriwijaya Palembang
67 Gustriani
Univ Sriwijaya Palembang
8 Arini Made Hanindharputri
ISI Denpasar – Bali
38 Oby Eka Rizky
Univ Negeri Jakarta
68 Irna Yugaswatie
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
9 Ira Yulianti
IAIN Antasari – Bjmasin
39 Rizal
Univ Syiah Kuala Aceh
69 Evici Herianti
IAIN Ar-Raniry Aceh
10 Adi Ramayadi
STAIN Cirebon
40 Abdul Basyir
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
70 Muji Basuki
IAIN Sunan Ampel Surabaya
11 Pingkan MR Walewangko
Univ.Sam Ratulangi Manado
41 Fahimah Mooduto
Univ. Neg. Gorontalo
71 Nurdahlia Lataima
Univ. Neg. Gorontalo
12 Dina Eka Putri
Univ. Jember
42 Ali Imran
Univ. Tadulako – Palu
72 Roni Ahmada
STAIN Ponorogo
13 Hardianti Ahmad
STAIN Pontianak
43 Khusnul Khotimah
STAIN Pekalongan
73 Fitriyani
STAIN Pekalongan
14 Andi Baso Tombong
Univ Hasanuddin Makassar
44 Eva Mir’atun Niswah
STAIN Purwokerto
74 Farida R. Sanjaya
STAIN Salatiga
15 Achmad Zaki Syaifudin
Institut Teknologi Bandung
45 Iswahyudhi Nur Rahman
Univ. Kutai Kartanegara – Samarinda
75 Sapariani
Univ. Mulawarman – Samarinda
16 Yuni Krisnaningrum Alberta
Univ Gadjah Mada Yogyakarta
46 Ahmad M. Mahbub
IAIN SMH Serang
76 Abdul Rohman
IAIN SMH Serang
17 Ahmad Junaidi
Univ Mataram
47 Putu Erika Paskarani
Univ. Udayana – Bali
77 Luh Virsa Paradissa
Univ. Udayana – Bali
18 Maryeni Auliyati
Univ Andalas Padang
48 Siti Mashunah
IAIN Antasari Banjarmasin
78 Nisa Mahbubah
IAIN Antasari – Bjmasin
19 Edit Oktavia Manuama
Univ Indonesia – Jakarta
49 Sarip
STAIN Cirebon
79 Abdul Somad
STAIN Cirebon
20 Aidil Azhar
Univ Syiah Kuala Aceh
50 Friestha Sari Putri
Univ. Lampung
80 Nurul Hidayati
IAIN Rd Intan – Lampung
21 Lingga Sriwijaya Ambarita
Universitas Bengkulu
51 Ismiaty Hasiru
Univ. Neg. Gorontalo
81 Luthfi Rahman
IAIN Walisongo Semarang
22 Fadlih Hairin
Univ. Tadulako – Palu
52 Ade Indah Cahyani
Univ. Neg. Papua
82 Febi Fajar Nugroho
Univ. Muhammadiyah Malang
23 Zidni Darus Salam
STAIN Pekalongan
53 Sholikatun Khasanah
STAIN Pekalongan
83 Sri Nur  Alyana
STAIN Parepare Makassar
24 Anisah Setyaningrum
STAIN Purwokerto
54 Arif Rahman
STAIN Salatiga
84 Hasna Parida
UIN Sunan Gunung Jati Bandung
25 Nurul Azis
STAIN Salatiga
55 Meylan R. Panjaitan
Univ. Mulawarman – Samarinda
85 Alifa Mardhoniawati
Univ Neg Yogyakarta
26 Ermina
IAIN SMH Serang
56 Dluha Mutammimah
IAIN SMH Serang
86 Mutawalli
IAIN Mataram
27 Desylva S. Pezcamara
Unv. Sebelas Maret Surakarta
57 Ni Wayan Ari Suardiyanti
ISI Denpasar
87 Bulkis
IAIN Imam Bonjol Padang
28 Arif Rahman
IAIN Antasari Banjarmasin
58 Nasrullah
Univ. Lambung Mangkurat – Bjmasin
88 Yogaswara Adiputro
Univ Al-Azhar Jakarta
29 Mariatus Syauqiyah
IAIN Antasari – Bjmasin
59 Diana Mahendra
STAIN Cirebon
89 Masykur Mahmud
IAIN Ar-Raniry Aceh
30 Adi Kristian Putra
IAIN Rd Intan – Lampung
60 Yudi Hermawan
IAIN Rd Intan – Lampung
90 Fikri Yanda
IAIN Sunan Ampel Surabaya

sumber: iief.or.id

Dokter Ikatan Dinas

Sejumlah Dokter Ikatan Dinas Tak Tepati Kontrak

Jakarta, Kompas
Sejumlah dokter spesialis ikatan dinas tidak menepati janji dan menolak ditempatkan di daerah sesuai kontrak yang ditandatangani. Hal itu diungkapkan Kepala Biro Kepegawaian, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (Depkes dan Kesos) drg Koeswartini M Suhel, Jumat (2/3), di Jakarta.Masalah itu mencuat dan dibicarakan dalam sebuah seminar terbatas yang diselenggarakan Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan, Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Gadjah Mada (UGM), dua hari berturut-turut sebelumnya (28 Februari dan 1 Maret).

Kepala Bagian Pengembangan Pegawai Negeri dr Rustam S Pakaya MPH merinci, sejak tahun anggaran 1994/1995 sampai tahun 2000 ada 1.141 dokter menerima bea siswa ikatan dinas Depkes dan Kesos. Dari jumlah itu, 332 orang telah lulus sebagai dokter spesialis.

Koeswartini menuturkan, sejumlah dokter spesialis yang telah lulus tidak segera berangkat ke daerah sesuai surat keputusan (SK), menawar untuk ditugaskan di tempat lain, bahkan ada satu orang keluarga mantan pejabat tinggi yang “lari”, sekolah ke luar negeri.

Ada juga yang dengan pelbagai alasan memilih mengembalikan bea siswa. Alasan yang dikemukakan antara lain, mengikuti suami, masalah kesehatan anak, atau harus mengurus orangtua.

Berdasarkan peraturan lama, pengembalian bea siswa adalah enam kali jumlah yang diterima selama masa pendidikan. Sejak tahun 1999 diperberat menjadi 20 kali jumlah bantuan pendidikan. Mereka yang mengembalikan bea siswa masih terikat peraturan lama. Setelah dihitung, jumlahnya lebih dari Rp 100 juta, sehingga banyak di antara mereka berniat mencicil sesuai kemampuan.

“Kasus pelanggaran kontrak yang cukup berat adalah pemalsuan SK. Yaitu, jangka waktu tugas ditutup tip ex, kemudian dokter bersangkutan melamar ke rumah sakit pendidikan untuk menjadi staf pengajar di fakultas kedokteran terkait dan diterima. Dalam hal ini Depkes sudah menegur rumah sakit bersangkutan dan menyerahkan perkara ini ke Bagian Hukum Depkes untuk diberi sanksi administratif,” papar Koeswartini.

Daerah konflik

Sanksi administratif, menurut Koeswartini, bisa berupa pemberhentian sebagai pegawai negeri sipil, pencabutan atau tidak diberikan izin praktik dan atau dilaporkan ke Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) untuk dilakukan penagihan sesuai peraturan.

Kini dokter yang bersangkutan ditempatkan di daerah konflik untuk mempersingkat masa tugas. Di daerah konflik, tugas enam bulan dihitung satu tahun, sehingga bertugas dua tahun di daerah konflik sama dengan empat tahun masa bakti ikatan dinas.

Kasus lain yang hampir serupa, masa tugas diubah delapan bulan lebih pendek, kemudian yang bersangkutan mengikuti program studi subspesialis. Dalam kasus ini dokter bersangkutan dikeluarkan dari pendidikan dan diharuskan menyelesaikan masa tugas.

Mengapa tidak diserahkan ke polisi untuk diproses pidana? Koeswartini berkilah, hal ini sulit karena masalah manusiawi. Selain itu, negara rugi jika yang bersangkutan dipenjara dan tidak bisa memberi pelayanan kesehatan.

“Jumlah yang berulah sekitar lima persen. Jadi, tujuan pemberian bea siswa relatif tercapai. Namun demikian, kecenderungan itu harus dicegah,” ujar Rustam.

Kelas C dan D

Pemberian bantuan biaya pendidikan bagi peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) khususnya untuk program studi bedah, penyakit dalam, kebidanan-kandungan, kesehatan anak, radiologi, anestesiologi, dan patologi klinik, bertujuan untuk mengisi rumah sakit kelas C dan D di luar Jawa, Bali, dan Lampung, dalam upaya meningkatkan mutu dan cakupan pelayanan kesehatan spesialistik bagi masyarakat. Umumnya daerah itu tidak diminati karena terpencil atau daya beli masyarakatnya rendah, terutama di kawasan Indonesia Timur.

Ada juga kasus dokter spesialis yang telah lulus, namun tidak segera lapor atau Komite Disiplin Ilmu Kedokteran (KDIK) terlambat melapor, sehingga bantuan pendidikan jalan terus. Untuk kasus seperti itu, yang bersangkutan diminta mengembalikan kelebihan bantuan terkait. (atk)